Tujuh laga, dan lawan Persik sudah menemukan jalur favorit mereka
Tujuh laga, dan lawan Persik sudah menemukan jalur favorit mereka
Tujuh laga memasuki Super League 26/27, pola serangan lawan Persik Kediri mulai terlihat jelas: mereka lebih sering datang lewat sisi kanan pertahanan Persik. Di tulisan ini kami mengukur seberapa besar kecondongan itu, membandingkannya dengan tim lain dan dengan musim lalu, lalu mencari penyebabnya di posisi empat bek Persik. Semua angka berasal dari data event dan heatmap pertandingan Super League 25/26 dan 26/27 hingga 26 Oktober 2026. Geser untuk melihat ceritanya, dan baca terus untuk metode di balik setiap grafik.
Dari setiap 100 sentuhan lawan di separuh lapangan Persik, 41 terjadi di sisi kanan
Kami mengumpulkan semua titik heatmap pemain lawan di tujuh laga Persik, lalu hanya mengambil sentuhan di separuh lapangan Persik, yaitu saat lawan sedang menyerang. Lapangan itu kami bagi menjadi tiga jalur yang sama lebar. Hasilnya: 41% sentuhan lawan terjadi di jalur kanan Persik, 24% di tengah, dan 35% di kiri. Sisi kanan di sini adalah kanan dari sudut pandang Persik saat menyerang, tempat bek sayap kanan Kiko dan bek tengah kanan Park Jun-heong bermain.
Hampir semua tim sedikit condong ke kanan, tapi Persik termasuk lima teratas
Kecondongan ke satu sisi itu normal. Di Super League musim ini, rata-rata tim menerima 2,7 poin persen lebih banyak sentuhan lawan di sisi kanan daripada kiri, kemungkinan karena kebanyakan pemain menyerang berkaki kanan. Karena itu, angka 41% saja tidak cukup; yang penting adalah peringkatnya. Selisih Persik +6,0 poin, terbesar kelima dari 18 tim, di bawah Persijap (+14,1), Persebaya (+8,6), Arema (+8,2), dan Java United (+7,8).
Sisi kanan lebih ramai di enam dari tujuh laga
Pola ini bukan hasil satu pertandingan yang ekstrem. Di enam dari tujuh laga, sisi kanan Persik menerima lebih banyak sentuhan lawan daripada sisi kiri, dengan selisih terbesar melawan Dewa United di pekan 1 (+15 poin: 43% kanan, 28% kiri). Satu-satunya pengecualian adalah laga melawan Arema di pekan 3, saat kedua sisi hampir sama (kiri 40%, kanan 39%). Di empat laga terakhir, selisihnya selalu antara +5 dan +8.
Kecondongan ini sudah muncul di akhir musim lalu, dan kini makin besar
Sepanjang musim 2025/26, serangan lawan ke Persik hampir seimbang: 36% di kanan dan 35% di kiri, peringkat 10 dari 18 tim. Tapi di 10 laga terakhir musim itu (pekan 25–34), sisi kanan sudah lebih ramai di tujuh laga, meski selisihnya kecil: 37% kanan dan 35% kiri, setara dengan kecondongan rata-rata liga. Musim ini, selisih itu melebar menjadi 41% berbanding 35%.
Di sisi kanan, Kiko bermain sekitar 16 meter lebih tinggi dari Park
Untuk mencari penyebabnya, kami melihat rata-rata posisi empat bek Persik di setiap laga, ditimbang dengan menit bermain. Di sisi kiri, Marcelo Djaló dan Althaf Alrizky bermain relatif berdekatan. Di sisi kanan, Kiko naik jauh ke depan, dengan rata-rata posisi di dekat garis tengah, sementara Park bertahan lebih dalam. Selisih ketinggian keduanya sekitar 15,5 meter. Bek sayap yang naik tinggi bukan hal buruk, tapi ruang yang ditinggalkannya harus ditutup oleh orang lain.
Jarak Kiko–Park 22,6 meter, lebih lebar dari 74% pasangan bek di liga
Kami mengukur jarak antara rata-rata posisi bek tengah dan bek sayap di sisi yang sama, untuk setiap tim di setiap laga dengan empat bek. Median liga musim ini 19,4 meter. Jarak Kiko–Park rata-rata 22,6 meter, lebih lebar dari 74% dari 206 pasangan yang kami ukur. Pasangan kiri Persik, Djaló–Althaf, berada di 19,3 meter, tepat di median. Sebagai pembanding, sisi kanan Persik musim lalu berjarak 19,4 meter. Celah ini baru melebar musim ini. Satu catatan: jarak antarposisi rata-rata menunjukkan ruang, bukan seberapa nyaman kedua pemain bermain bersama.
Tujuh laga masih awal, tapi lawan sudah membaca polanya
Dua hal muncul bersamaan musim ini: serangan lawan makin condong ke kanan, dan jarak antara bek sayap dan bek tengah di sisi itu makin lebar. Data posisi rata-rata tidak bisa membuktikan bahwa yang satu menyebabkan yang lain, dan tujuh laga adalah sampel kecil. Tapi selama celah itu tetap terbuka, lawan akan terus tahu jalur mana yang paling menjanjikan.
Begini cara kami membaca datanya
Cara kami menghitung: semua data berasal dari data event dan heatmap Super League 25/26 dan 26/27 hingga 26 Oktober 2026. Sisi kiri dan kanan selalu dilihat dari sudut pandang Persik saat menyerang; kami memeriksanya dengan posisi bek kiri dan kanan yang sudah dikenal di liga. Jalur dihitung dari titik heatmap pemain lawan di separuh lapangan Persik, dibagi menjadi tiga jalur yang sama lebar. Jarak antarbek dihitung dari rata-rata posisi per laga, hanya di laga dengan empat bek starter (6 laga untuk Persik musim ini), dengan ukuran lapangan 105 × 68 meter sebagai perkiraan. Dengan sampel sekecil ini, baca semua angka sebagai "sejauh musim ini". MidBlock. Making football understandable.