All writing
Team AnalysisNovember 4, 20265 min read

Bali United: Paling Menguasai Bola dan Paling Tajam di Super League. Tapi Data Menunjukkan Ada Celah di Belakang

Bali United memulai Super League 26/27 dengan gaya yang sangat dominan: mereka paling banyak memegang bola dan paling banyak mencetak gol. Tapi gaya menyerang seperti ini punya harga. Di tulisan ini kami melihat sisi serangan Bali, bagaimana mereka menempatkan pemain di lapangan, lalu di mana lawan bisa melukai mereka. Semua angka berasal dari skor, statistik tim dan posisi rata-rata pemain di Super League 26/27 hingga 1 November 2026. Geser untuk melihat ceritanya, dan baca terus untuk metode di balik setiap grafik.

Delapan pekan berjalan, Bali United menguasai bola dan mencetak gol lebih banyak dari siapa pun

Delapan pekan berjalan, Bali United menguasai bola dan mencetak gol lebih banyak dari siapa pun

Bali United memulai Super League 26/27 dengan gaya yang sangat dominan: mereka paling banyak memegang bola dan paling banyak mencetak gol. Tapi gaya menyerang seperti ini punya harga. Di tulisan ini kami melihat sisi serangan Bali, bagaimana mereka menempatkan pemain di lapangan, lalu di mana lawan bisa melukai mereka. Semua angka berasal dari skor, statistik tim dan posisi rata-rata pemain di Super League 26/27 hingga 1 November 2026. Geser untuk melihat ceritanya, dan baca terus untuk metode di balik setiap grafik.

Bali menguasai rata-rata 60,8% bola, tertinggi di liga bersama Persija

Penguasaan bola di sini dihitung dari porsi umpan Bali dibanding total umpan kedua tim dalam satu laga, lalu dirata-rata. Bali berada di 60,82%, hanya sepersekian di atas Persija (60,79%), sehingga keduanya praktis sama di puncak. Bhayangkara (59,2%) dan Persik (59,0%) menyusul. Rata-rata Bali membuat 509 umpan per laga, sementara lawan mereka hanya 327.

Mereka mencetak 23 gol, terbanyak di liga, dengan rata-rata 15 tembakan per laga

Bali tidak hanya memegang bola, mereka memakainya. Dalam delapan laga, Bali mencetak 23 gol, lima lebih banyak dari Persija (18) di posisi kedua. Rata-rata mereka melepaskan 14,9 tembakan per laga. Angka gol dihitung dari skor akhir semua delapan laga.

Peluang Bali bernilai 2,13 xG per laga, ketiga terbaik di liga

Expected goals (xG) mengukur peluang sebuah tembakan menjadi gol berdasarkan lokasi dan jenisnya. Rata-rata peluang Bali bernilai 2,13 xG per laga; hanya Persita (2,33) dan Dewa United (2,23) yang lebih tinggi.

Rata-rata enam dari sepuluh pemain outfield Bali berada di separuh lapangan lawan

Kami menghitung posisi rata-rata setiap pemain starter (tanpa kiper) di tiap laga. Rata-rata 6,0 dari 10 pemain outfield Bali berada di separuh lapangan lawan. Mereka juga tersebar merata di lebar lapangan: 2,9 pemain di lajur kiri, 4,4 di tengah dan 2,7 di kanan. Artinya Bali menekan tinggi tanpa menumpuk pemain di satu sisi.

Hanya Persija dan Persebaya yang menempatkan lebih banyak pemain di depan

Dalam hal jumlah pemain di separuh lawan, Bali berada di peringkat tiga. Persija (7,1) dan Persebaya (6,4) menaruh lebih banyak pemain di depan, disusul Bali (6,0) dan Dewa United (5,9). Di ujung lain, Arema dan Kalteng rata-rata hanya menaruh 3,6 pemain di separuh lawan.

Lawan jarang memegang bola, tapi tetap membuat 1,78 xG per laga

Konsekuensi dari menaruh banyak pemain di depan adalah ruang di belakang. Lawan Bali rata-rata hanya membuat 327 umpan per laga, jauh di bawah 509 umpan Bali. Namun dengan bola sesedikit itu, lawan tetap menciptakan peluang senilai rata-rata 1,78 xG per laga. Kami tidak bisa memastikan berapa banyak dari peluang itu yang lahir dari serangan balik, karena data kami tidak menandai jenis serangan.

Setiap 100 umpan lawan menghasilkan 0,54 xG, ke-17 dari 18 tim

Untuk membandingkan secara adil, kami membagi total xG lawan dengan total umpan lawan. Hasilnya: setiap 100 umpan lawan Bali menghasilkan 0,54 xG. Hanya PSS (0,55) yang lebih buruk. Sebagai perbandingan, lawan Persebaya hanya menghasilkan 0,23 xG dan lawan Persija 0,27 xG per 100 umpan. Artinya, ketika lawan mendapatkan bola, mereka lebih cepat menjadi berbahaya melawan Bali daripada melawan hampir semua tim lain.

Bali unggul di duel darat, tapi menjadi yang terlemah di duel udara

Secara keseluruhan Bali memenangi rata-rata 51,6% duel per laga, ketiga terbaik di liga setelah Persija dan Persib. Tapi di udara ceritanya berbeda: Bali hanya memenangi 35,2% duel udara, terendah dari 18 tim. Garudayaksa, tim terbaik dalam duel udara, memenangi 62,7%.

Bola mati lawan melawan Bali adalah yang ketiga paling berbahaya di liga

Kelemahan di udara terlihat saat bola mati. Tembakan lawan dari tendangan sudut, tendangan bebas, lemparan ke dalam dan situasi set-piece lain bernilai rata-rata 0,53 xG per laga melawan Bali, peringkat 16 dari 18. Hanya Persijap (0,57) dan Kalteng (0,58) yang kebobolan peluang bola mati lebih berbahaya.

Delapan gol kebobolan dari peluang senilai 12,45 xG. Sampai kapan?

Di tujuh laga dengan statistik lengkap, Bali kebobolan 8 gol dari peluang lawan senilai total 12,45 xG. Dalam semua delapan laga, mereka kebobolan 9 gol, terendah keempat bersama di liga. Artinya, sejauh ini lawan mencetak lebih sedikit gol daripada kualitas peluang yang mereka dapat, dan selisih seperti itu jarang bertahan lama. Jika celah di belakang dan di udara tetap terbuka, angka kebobolan mereka bisa naik.

Metode: dari mana angka-angka ini berasal

Data dari skor, statistik tim, tembakan dan posisi rata-rata pemain di Super League 26/27 hingga 1 November 2026. Gol dan kebobolan dihitung dari skor akhir semua laga. Statistik tim (penguasaan bola, tembakan, xG, umpan, duel) hanya dari laga dengan data lengkap: Bali 7 laga, karena laga pekan 2 melawan Kalteng tidak memiliki statistik tim, dan lima laga pekan 8 lainnya belum tersedia saat data diambil. Penguasaan bola = porsi umpan tim dari total umpan kedua tim per laga. xG per 100 umpan lawan = total xG lawan dibagi total umpan lawan × 100. Persentase duel = rata-rata porsi duel yang dimenangi per laga. Bola mati = tembakan dari tendangan sudut, tendangan bebas, lemparan ke dalam dan set-piece lain. Posisi rata-rata dari pemain starter tanpa kiper; separuh lawan = posisi rata-rata di atas garis tengah. Delapan laga adalah sampel kecil, jadi baca semua angka di sini sebagai "sejauh musim ini". MidBlock. Making football understandable.