Back to Blog
Team AnalysisJuly 3, 20262 min read

Why Peralta to Persija is not Make Sense

Persija Jakarta dikabarkan mengincar Mariano Peralta, pemain terbaik Liga Super Indonesia musim lalu. Namun sebelum merealisasikan transfer tersebut, data menunjukkan bahwa Maxwell mungkin sudah menjadi solusi yang lebih masuk akal daripada yang selama ini dibayangkan.

Part 1

Statistik Individu Maxwell Ternyata Selevel dengan Peralta

Data persentil antara Peralta dan Maxwell menunjukkan bahwa jarak kualitas keduanya jauh lebih kecil dibandingkan narasi yang berkembang di bursa transfer. Keduanya sama-sama berada di kategori elit, bahkan Maxwell mampu menyamai, bahkan sedikit melampaui, Peralta pada beberapa metrik yang benar-benar merepresentasikan kualitas individu.

Satu-satunya perbedaan statistik yang cukup mencolok terlihat pada aspek Distribution (55,7 vs 33,6) dan Possession (88,9 vs 50,0). Namun, kedua metrik ini bukanlah indikator yang sepenuhnya bergantung pada kemampuan individu. Nilainya sangat dipengaruhi oleh sistem permainan tim, seberapa sering rekan setim mengalirkan bola kepada pemain tersebut, serta bagaimana pola sirkulasi bola dibangun di area bermainnya.

Artinya, angka Maxwell yang lebih rendah pada kedua kategori tersebut kemungkinan besar lebih mencerminkan struktur taktik Persija dan pola distribusi bola tim, bukan karena adanya perbedaan kualitas individu yang signifikan dibandingkan Peralta.

Part 2

Mengapa Statistik Maxwell Terlihat Lebih Rendah?

Peta rata-rata posisi pemain menjelaskan alasan utama di balik perbedaan statistik tersebut. Di Persija, Maxwell sering beroperasi hampir sendirian di sisi kiri. Terlihat adanya ruang yang sangat lebar antara dirinya dengan gelandang terdekat, sementara Pamungkas sebagai bek kiri bermain terlalu dalam sehingga jarang memberikan dukungan overlap. Kondisi ini membuat Maxwell harus menciptakan ancaman dan membawa progres serangan seorang diri, dengan opsi kombinasi yang sangat terbatas.

Situasinya sangat berbeda dengan Peralta di Borneo FC. Ia dikelilingi oleh rekan-rekan setim yang berada dalam jarak dekat, seperti Alberti, Vinicius, dan Villa, sementara para gelandang aktif memberikan dukungan dan bek sayap tetap menjaga kedekatan posisi. Struktur ini menciptakan jaringan umpan yang jauh lebih baik, membuka lebih banyak peluang kombinasi, serta memastikan suplai bola yang konsisten kepada Peralta.

Konteks inilah yang secara langsung menjelaskan mengapa persentil Distribution dan Possession Peralta jauh lebih tinggi. Perbedaan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan taktik dan struktur permainan tim dibandingkan oleh kualitas individu kedua pemain.